Protestantisme Sedang Krisis Otoritas?

0
574

 

 

Oleh:  Hotben Lingga, M.Th.

 

Protestantisme, sebagai sebuah gerakan restorasi dan reformasi keagamaan, dimulai pada tanggal 31 Oktober 1517, ketika seorang rahib bernama Martin Luther memakukan 95 Tesisnya ke pintu Gereja sebuah kampus di Jerman. Protes dan gerakan Luther dan para pengikutnya terhadap penyimpangan-penyimpangan/penyelewengan-penyelewengan/kesewenang-wenangan teologis (dan politis) yang dilakukan Gereja Roma kemudian dikenal sebagai Gerakan Pembaharuan/Reformasi Gereja atau Gerakan Reformasi Protestan. Luther dan para pengikutnya kemudian disebut sebagai Protestan, yang berarti orang-orang yang ingin membaharui Gereja berdasarkan kebenaran Firman Tuhan (Alkitab) saja, agar sama kembali seperti iman yang diimani dan dipraktekkan para Rasul. Protestan berarti orang-orang yang hanya setia dan tunduk kepada kebenaran-kebenaran Injil/Alkitab dan berani memprotes semua penyimpangan/kesalahan doktrinal/teologis kalau bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena watak dan ciri khas penekanannya pada “kesetiaan/ketundukan/ketaatan kepada Injil” atau “Back to the Bible” maka kaum Protestan pada zaman Reformasi sampai sekarang juga disebut “Kaum Injili”. (Martin Luther sendiri yang menganjurkan agar para pengikutnya menyebut diri sebagai Kaum/Gereja Injili).

Saat ini populasi Kristen (Katolik, Ortodoks Timur dan Protestan) di seluruh dunia adalah sekitar 2,2 Milyar orang lebih, berarti 1/3 penduduk dunia. Jumlah bangunan gereja di seluruh dunia saat ini adalah sekitar 37 juta, dimana rata-rata 50.000 gereja baru dibangun setiap tahunnya. Sejak kelahirannya sampai sekarang, Protestantisme terus berkembang. Saat ini populasi Protestan dari semua aliran adalah sekitar 800 juta jiwa. Aliran-aliran utama Protestan adalah Lutheran, Reformed, Presbyterian, Baptis, Methodis, Anglikan, Advent, Kongregrasional, Mennonite, Bala Keselamatan, Wesleyan, Nazarene, Injili Bebas, Pentakosta, Karismatik, Reformasi Apostolik, dll, yang masing-masing terpecah-pecah lagi ke sekitar 34.000 denominasi Gereja mandiri.

Lima Sendi/Pilar Yang Menjadi Spirit dan Pilar Protestantisme

Sola Scriptura merupakan salah satu semboyan zaman Reformasi yang diakui para pemimpin Gereja Protestan abad ke-16. Alkitab merupakan satu-satunya kaidah, standar, panduan dan acuan bagi iman dan praktek Gereja dan umat Kristen. Seluruh dogmatika teologi, pemikiran, hukum, idiologi, ilmu pengetahuan, filsafat, kebudayaan, peradaban harus tunduk, ditundukkan dan menundukkan diri pada otoritas dan kebenaran Firman Tuhan. Seluruh aspek kehidupan harus dibangun dan didasarkan di atas batu karang yang kokoh dan abadi, yaitu Firman Tuhan (Alkitab). Segala sesuatu tidak bernilai kalau tidak dibangun di atas Firman Tuhan.

Sola Gratia (kita diselamatkan oleh anugerah/kasih Allah saja, bukan karena kehendak atau jasa kita).

Sola Fide (satu-satunya sarana/instrumen pembenaran adalah hanya percaya kepada Yesus Kristus Sang Penebus)

Solus Christus (Kristus merupakan satu-satunya mediator/perantara antara Allah dan manusia, bukan para imam/pendeta, Maria, Paus atau orang-orang kudus).

Soli Deo Gloria (seluruh kehidupan kita, kesaksian, potensi, kekayaan, pikiran, karya, rencana dan kegiatan kita sehari-hari harus dilakukan semata-mata untuk hormat, kepujian dan kemuliaan bagi Allah Tritunggal. Bersaksi, memuliakan dan memahsyurkan nama Tuhan merupakan tugas, panggilan dan kewajiban orang percaya. Dari asas Soli Deo Gloria dan perintah untuk bersaksi (pro testatio) bagi hormat dan kemuliaan Allah Tritunggal inilah, maka orang-orang dan gereja yang menerima prinsip 5 Sola ini disebut Protestan (=Orang orang yang bersaksi untuk Allah tritunggal).

Alkitab, yang diberikan oleh Tuhan dan Kepala Gereja, Yesus Kristus, merupakan satu-satunya peraturan dan kaidah yang mencukupi bagi Gereja untuk diimani dan dipraktekkan. Pikiran dan perbuatan Gereja harus diatur oleh Firman Tuhan yang ditulis oleh para nabi dan rasul. Inilah sikap teologi yang dianut Protestantisme klasik, yang sepenuhnya sesuai dengan apa yang Alkitab tegaskan tentang dirinya.

Tetapi ini tentunya bukan sikap bulat semua aliran Kristen, bahkan bukan lagi merupakan sikap di antara kaum Protestan, yang sudah menyimpang jauh dari iman bapa-bapa mereka.

Kecenderungan terakhir

Saat ini, banyak aliran Kristen yang menyangkal warisan yang kaya dari prinsip 5 Sola ini. Sikap ini menimbulkan masalah karena tanpa otoritas dan disiplin alkitabiah, kita tidak saja bagaikan kapal tanpa kemudi tetapi juga bagaikan orang buta yang ingin berpetualang ke suatu negeri yang jauh sekali tanpa seorang penuntun jalan yang kredibel dan berintegritas.

Gereja Protestan saat ini sedang menghadapi krisis besar karena meninggalkan tambatan Alkitab, yang akan menyebabkan iman yang kudus mengalami bencana. Karena iman harus selalu didasarkan dan dipelihara oleh Firman Allah, bukan didasarkan atas hikmat manusia yang sudah dikuasai oleh dosa. Asas lima Sola ini terdapat dalam Alkitab.

Kalau dahulu kita berjuang melawan penyimpangan-penyimpangan doktrin yang dilakukan Roma, saat ini kita juga sedang menghadapi bentuk-bentuk kekristenan yang menyimpang misalnya psikologi yang dicampuradukkan dengan Alkitab, pengajaran-pengajaran tentang penampakan-penampakan palsu, nubuatan-nubuatan palsu, kitab-kitab suci tambahan, mimpi-mimpi yang palsu dan klaim wahyu-wahyu palsu yang sangat membahayakan gereja.

Agenda besar gereja saat ini seharusnya adalah kembali kepada otoritas Alkitab, bukan kepada kesatuan yang dangkal atau ekumenisme yang membawa kita kembali ke negeri Mesir. Gereja (Kerajaan Allah) harus dibangun dan disatukan di atas kebenaran Firman Tuhan bukan di atas kegelapan. Kebenaran harus menang (Yoh 18:37).

Karena Ekumenisme palsu, isu-isu dasar dan penting kelihatannya sudah terlupakan. Perbedaan-perbedaan doktrin yang fundamental bagi iman (seperti kebangkitan Kristus dan keilahianNya, kelahiranNya dari seorang perawan dan Inneransi dan inspirasi Alkitab, serta pengilahian sosok Maria) sudah diabaikan. Apa yang telah membongkar dan menggantikan apa yang telah ditanam oleh para Rasul dan Reformator? Pertama, pragmatisme. Kedua, pluralisme. Ketiga, inklusivisme.

Alkitab merupakan satu-satunya dasar yang pasti, penuntun moral dan kebenaran yang absolut bagi umat manusia. Eropa dan AS (Barat) menjadi hebat karena dibangun diatas Firman Tuhan. Saat ini, karena Barat meninggalkan kemutlakan moral dari Alkitab, Barat pun sudah goyah, sedang ambruk, bangkrut. Karena tidak mempunyai landasan yang kokoh/kuat lagi untuk dipegang sebagai kebenaran, karena tidak lagi dibangun dan hidup atas dasar Alkitab maka Baratpun akan khaos.

Hal yang sama terjadi pada Gereja, kalau ia menolak Alkitab sebagai satu-satunya dasar yang pasti, ia akan kritis. Alkitab merupakan satu-satunya catatan otentik yang memberitahu kita tentang asal-usul kita, maksud atau tujuan keberadaan kita, cara kita harus bertingkahlaku, jalan keselamatan dan nasib/takdir kita. Manusia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan dalam dirinya. Tuhan yang menyediakan jawaban-jawabannya dan Ia telah menjawabnya di dalam Alkitab.

Alkitab juga memberitahu kita Tuhan apa yang harus kita sembah: Allah Tritunggal yang hidup dan sejati., Pencipta yang berdaulat dan Pemelihara segala sesuatu, Sang Penebus (Kis 17). Tuhan saja yang tahu apa yang terbaik bagi kita dan bagi dunia ini. Karena itu kita tidak boleh mengabaikan doktrin penting yang dipelihara bagi semua generasi di dalam Alkitab.

Prinsip-prinsip ajaran yang harus kita pegang teguh adalah:

Kaum Protestan sejati tidak percaya bahwa Alkitab hanya mengandung Firman Tuhan; tetapi Alkitab seluruhnya adalah sungguh-sungguh Firman Tuhan yang saling berhubungan. Tidak ada yang lain.

Umat dan Gereja Protestan harus berpegang teguh pada Alkitab saja sebagai dasar mereka yang kokoh (Yoh 14:21)

Umat Protestan percaya bahwa secara keseluruhan Alkitab akurat, benar, dapat dipercaya dan bebas dari kesalahan. Asalkan penafsirannya benar, Alkitab selalu menuntun kita kepada kebenaran. Alkitab bebas dari informasi curang, apakah ia mengajarkan kebenaran ilmiah, astronomis, historis atau rohani.

Kaum Protestan, sesuai dengan Alkitab, percaya akan kecukupan Alkitab. Setelah zaman rasul-rasul tidak pernah ada lagi wahyu-wahyu baru dan sejati dari Allah kepada GerejaNya dan umatNya. Kelompok-kelompok Kristen lain yang mengklaim masih ada pewahyuan-pewahyuan baru sesungguhnya sedang membawa Gereja kepada subyektivisme, mistisisme, ekstrimisme, kebingungan dan penyimpangan dari Alkitab. Gereja gampang tersesat dan mudah ditipu oleh roh zaman kalau membuka diri pada pewahyuan-pewahyuan baru yang sebenarnya bukan dari Allah Roh Kudus. Gereja gereja Protestan harus didesak dan diingatkan agar (kembali) tetap berpegang teguh kepada Alkitab sebagai satu-satunya wahyu Allah yang sudah final dan cukup.

Karena Alkitab bersifat cukup, sempurna dan mutlak, maka Alkitab merupakan otoritas terakhir bagi gereja. Tidak ada lagi otoritas yang lebih tinggi dari Alkitab. Allah berbicara melalui dan di dalam Alkitab.

Alkitab harus ditafsirkan secara bijaksana, penuh doa dan secara konsisten. Gereja Protestan yang sejati adalah Gereja berpusatkan pada Firman Tuhan yang hidup, yang membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari, mengkotbahkannya, menyanyikannya dan menaatinya.

Gereja Protestan yang benar juga harus taat dan setia memberitakan Injil untuk memuridkan segala bangsa bagi hormat dan kemuliaan Allah Tritunggal. (DBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here